Rabu, 27 April 2011

BAB-8j.Syair-syair untuk Nabi saw.dan para sahabat

Pada zaman Nabi saw terdapat banyak penyair yang terkenal dan hebat datang kepada Rasulallah saw. dan mempersembahkan kepada beliau berhalaman-halaman syair yang memuji dan mengagungkan  beliau saw.. Ini dibuktikan dengan banyaknya syair yang dikutip di dalam Sirah Ibnu Hisham, al-Waqidi dan lain-lain. Penyair-penyair tekenal mengagung-agungkan Rasulallah saw dihadapan beliau dan para sahabat, tidak dilarang oleh Rasulallah saw. dan tidak ada para sahabat yang mencela atau mengatakan hal tersebutberlebih-lebihan (ghuluw) dan sebagainya.
Rasulallah saw. amat menyenangi syair yang indah seperti yang diriwayatkan Bukhari didalam al-Adab al-mufrad dan kitab-kitab lain. Rasulallah saw. bersabda: "Terdapat hikmah didalam syair". Paman Nabi saw. Al-'Abbas mengarang syair memuji kelahiran Nabi saw. diantara bait terjemahannya sebagai berikut: ‘Dikala dikau dilahirkan, bumi bersinar terang hingga nyaris-nyaris pasak-pasak bumi tidak mampu untuk menanggung cahayamu, dan kami dapat terus melangkah lantaran karena sinar dan cahaya dan jalan yang terpimpin’ ( Imam as-Suyuti dalam Husn al-Maqsid : 5 dan Ibnu Katsir dalam kitab Maulid : 30 dan juga didalam kitab Ibnu Hajar, Fath al-Bari).

 Ibnu Katsir menerangkan didalam kitabnya bahwa para sahabat ada meriwayatkan bahwa Nabi saw. memuji nama dan nasabnya, serta membaca syair mengenai diri beliau semasa peperangan Hunain untuk menambah semangat para sahabat dan menakutkan para musuh. Pada hari itu beliau saw berkata: ‘Aku adalah Rasulallah! Ini bukanlah dusta. Aku anak 'Abdal–Muttalib !’  Beliau saw. juga sering berkata:

أنَا خَيْرُ أصْحَابِ اليَمِيْنِ , أنَا خَيْرُالسَّابِقِيْن, أنَا أتْقَى
وَلَدِ آدَمَ وَأكْرَمُهُمْ عَلَى اللهِ وَلاَ  فَخرْ

Artinya: Akulah ashabul-yamin yang terkemuka (dalam Dala’ilun Nubuwwah :5 , .....Akulah khairussabiqin (dalam Syarhul Mawahib 1:62) ....dan akulah anak Adam yang paling bertakwa dan paling mulia di sisi Allah dan aku tidak sombong....” (HR. At-Thabrani dan Al-Baihaqi didalam Dala’ilun Nubuwwah),

Sabda beliau saw. :   

أنَا سَيْدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمِ القِيَامَةِ
                             
Artinya: “Saya adalah sayyid (orang yang paling mulia) anak Adam di hari Kiamat nanti’ (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Turmudzi) atau sabda beliau saw. : 

أنَا سَيْدُ النَّاس يَوْمِ القِيَامَةِ

Artinya: ‘Aku adalah sayyid semua manusia di hari kiamat’ (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim).

 Riwayat Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi hadits dari Abu Hurairah ra: Nabi saw bersabda:  ”Aku adalah penghulu putra Adam pada hari kiamat, dan aku adalah orang pertama yang keluar dari kubur (jasadnya), dan aku adalah orang pertama pemberi syafa’at dan orang pertama diberi syafa’at”.

 Sedangkan dalam redaksi Tirmidzi disebutkan: “Aku adalah penghulu putra Adam pada hari kiamat di tanganku terdapat Liwaaul Hamdi / panji pujian dan aku tidak sombong.Tidak seorang Nabi pun pada hari itu baik Adam dan yang lainnya terkecuali dibawah naungan panji-panjiku dan aku adalah orang pertama yang keluar dari kubur dan aku tidak sombong”.

Masih banyak lagi kata-kata beliau saw. untuk dirinya. Kalau pujian-pujian ini semuanya dilarang dan dikatakan ghuluw, maka tidak akandiucapkan dari lisan orang yang paling taqwa dan mulia Rasulallah saw. serta dari lisan para sahabat yang ditujukan kepada beliau saw.
Rasulallah saw. sendiri sering menerangkan betapa mulia dan tingginya kedudukan beliau saw. disisi Allah swt., ini tidak lain agar kita kaum muslimin sadar dan dapat membedakan serta mengakui bahwa Allah swt. memberi kedudukan Rasulallah saw.paling tinggi dan mulia daripada makhluk-makhluk Allah lainnya, dan sabda beliau tersebut sejalan dengan firman Ilahi untuk pribadi beliau saw. Dengan demikian kita tidak boleh menyamakan kedudukan dan kemuliaan beliau saw. dengan manusia biasa!

 Hasan bin Tsabit ia mendendangkan syair yang bunyinya antara lain: ‘Anda lah (Rasulallah saw.) makhluk suci pilihan Allah... Andalah seorang Nabi dan keturunan terbaik Adam, keagungannya bagaikan ombak samudra..dan seterusnya’. Hasan bin Tsabit ra. sering melagukan dan membacakan syair-syairnya di depan Sayyidul Mursalin Muhammad saw. dan didepan para sahabat beliau. Tidak ada satupun yang mencela atau mengatakan berlebih-lebihan (ghuluw)!

Tertera di batu nisan Hasan ibnu Tsabit beliau menulis mengenai Nabi saw.:  
“Bagiku tiada siapa dapat mencari kesalahan didalam diriku, Aku hanya seorang yang telah hilang segala derita rasa, Aku tidak akan berhenti dari pada memujinya (nabi saw.), karena hanya dengan itu mungkin aku akan kekal didalam syurga bersama-sama 'Yang Terpilih', yang daripadanya aku mengharapkan syafa’at, dan untuk hari itu, aku kerahkan seluruh tenagaku kearah itu”. 
           
 Hasan bin Tsabit waktu membaca syair di masjid Nabawi ditegur oleh Umar bin Khattab ra., lalu Hasan bin Tsabit berkata kepada Umar ra. : 'Aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yang lebih mulia dari engkau wahai Umar (yakni Nabi saw.)', lalu Hasan berpaling kepada Abu Hurairah ra dan berkata; 'bukankah engkau dengar Rasul saw. menjawab syairku dengan doá 'Wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus'. Abu Hurairah ra. menjawab; Benar. (HR.bukhori hadits nr. 3040, Muslim hadits nr. 2485).
Jadi tidak semua syair yang dibaca didalam masjid semuanya haram, hadits yang meriwayatkan keharaman baca syair didalam masjid yaitu syair-syair yang membawa kepada ghaflah (kelupaan), hanya bersifat keduniaan. Tetapi syair yang memuji Allah swt. dan Rasul-Nya itu diperbolehkan malah dipuji dan didoakan oleh beliau saw.

 Rasulallah saw. mendirikan mimbar khusus dimasjid agar ia (Hasan bin tsabit ra) berdiri untuk melantunkan syair-syairnya (Mustadrak ala shohihain hadits nr. 6058, sunan Attirmidzi hadits nr. 2846). 

 Menurut riwayat yang berasal dari Abu Bakar Ibnul Anbari, ketika Ka’ab bin Zuhair dalam mendendangkan syair pujiannya sampai kepada sanjungan bahwa beliau saw. adalah sinar cahaya yang menerangi dunia dan beliau laksana pedang Allah yang ampuh terhunus. Sebagai tanda kegembiraan beliau saw., maka beliau menanggalkan kain burdahnya (kain penutup punggung) dan diberikan pada Ka’ab. Mu’awiyyah bin Abi Sufyan pada masa kekuasaannya berusaha membeli burdah itu dari Ka’ab dengan harga sepuluh ribu dirham, tetapi Ka’ab menolaknya. Setelah Ka’ab wafat, Mu’awiyah membeli burdah pusaka Nabi saw. itu dari ahli waris Ka’ab dengan harga dua puluh ribu dirham.
           
Banyak sekali hadits yang diriwayatkan para sahabat Nabi saw. tentang bagaimana mereka membaca bait-bait syair untuk memuliakan dan mengagungkan Nabi saw. seperti Amr bin ‘Ash, Anas bin Malik, Usamah bin Syarik dan lain-lain. Semua pujian dan syair-syair ini tidak dilarang oleh beliau saw.! Juga syair-syair tersebut boleh dilagu kan dan diiringi dengan bermain gendang.

 Didalam kitab Madarij al-salikin, Ibnu Qayyim menulis bahwa Nabi saw. memberi izin untuk menyanyi pada hari perkawinan danmembenarkan syair dipersembahkan untuk beliau saw.. Beliau mendengar Anas dan para sahabat memujinya dan membaca syair ketika beliau saw. sedang menggali parit semasa peperangan Khandaq dan mereka pernah berkata," Kamilah yang telah memberi bai'ah kepada Muhammad untuk berjihad selama kami hidup."

 Ibnu Qayyim juga telah menceritakan mengenai 'Abdullah ibnu Rawaha membaca syair yang panjang memuji-muji Nabi Muhammad saw. semasa penaklukan kota Makkah, dan Nabi pun berdo’a untuk beliau ra. Rasulallah saw. juga pernah mendo’akan untuk Hasan ibnu Tsabit agar Allah senantiasa memberi bantuan kepadanya dengan ruh suci (the holy spirit) selama beliau memuji-muji Nabi saw melalui syairnya. Nabi juga pernah meminta Aswad bin Sarih untuk mengarang syair memuji-muji Allah dan beliau saw.  Nabi saw. pernah meminta seseorang untuk membaca syair puji-pujian yang memuat seratus halaman yang dikarang oleh Umayya ibnu Abi Halh.

 Menurut Ibnu Qayyim lagi, 'Aisyah ra selalu membaca syair memuji baginda saw. dan beliau amat menyenanginya." Ditulis juga oleh Ibnu Qayyim di dalam kitabnya, Allah memberi keizinan kepada Nabi saw. agar membaca Al-Qur’an dengan berlagu. Pada suatu hari Abu Musa al-Ash'ari sedang membaca Al-Qur’an dengan berlagu dan suara yang merdu dan ketika itu Nabi saw. sedang mendengar bacaan beliau .  
Setelah beliau selesai mengaji, Nabi saw. mengucapkan tahniah kepada beliau karena bacaan beliau yang begitu merdu dan Nabi saw. bersabda: ‘Engkau mempunyai suara yang merdu’  beliau saw. bersabda lagi bahwa: ‘Abu Musa al-Ash'ari telah dikurniakan Allah 'Mizmar' (seruling) diantara mizmar-mizmar Nabi Daud’. Abu Musa pun berkata, ‘Ya Rasulallah jika aku tahu yang engkau sedang mendengarkan bacaanku niscaya aku akan membaca dengan suara yang lebih merdu dan lagu yang lebih enak lagi yang engkau belum pernah dengar’.

 Ibnu Qayyim menulis lagi, Nabi saw. bersabda : ”Hiasilah al-Qur’an dengan suara kamu’, dan  siapa-siapa yang tidak melagukan al-Qur’an bukanlah dari kalangan kami." Ibnu Qayyim mengatakan juga: ‘Untuk menyenangi suara yang merdu adalah dibenarkan seperti juga kita menyenangi pemandangan yang indah, gunung-gunung, alam semesta ataupun harum-haruman dan wangi-wangian ataupun hidangan yang lezat selama semua itu tidak melanggar batas-batas syari’at’.

 Seorang ahli hadits, Ibnu 'Abbad telah memberikan fatwa tentang hadits Rasulallah saw. berikut ini:  “Seorang wanita telah datang menemui Nabi di waktu beliau saw. baru pulang dari medan peperangan, dan wanita itu pun berkata; ‘Ya Rasulallah, aku telah bernadzar jika sekiranya, Allah menghantarkan engkau kembali dalam keadaan selamat, aku akan bermain gendang disebelahmu.’ Nabi pun bersabda; ‘Tunaikanlah nadzarmu’ ." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Imam Ahmad)
Lihat hadits terakhir diatas yang diriwayatkan oleh para rawi yang cukup terkenal bahwa Rasulallah saw. mengizinkan wanita tersebut untuk melaksanakan nadrnya yaitu bermain gendang sebelah Rasulallah saw.. Bilamana hal tersebut dilarang maka akan dilarang pula oleh beliau saw., walau pun hal itu sebagai nadr. Karena nadr tidak boleh dilaksanakan bila bertentangan dengan syari’at Islam.

Riwayat-riwayat diatas mengenai syair-syair pengagungan, permainan gendang dengan niat yang baik dihadapan Rasulallah saw. dan para sahabatnya  telah membuktikan bahwa beliau saw. gembira dan mendo’akan serta memberi hadiah pada para penyair yang memuji-muji beliau saw tersebut. Dengan demikian kita ingin bertanya lagi kepada golongan pengingkar pengagungan kepada Rasulallah saw :
Alasan apa orang menyalahkan dan mengharamkan pembacaan syair atau qosidah-qosidah pujian pada majlis peringatan agamabaik untuk Rasulallah saw. maupun untuk para ahli takwa lainnya sambil di-iringi dengan suara gendang agar lebih menarik bagi pendengarnya? Mereka semua mempunyai niat yang baik untuk membaca, mendengar syair, qosidah pujian-pujian itu dan semuanya ini tidak bertentangan dengan syari’at Islam! Bila menulis, membacakan dan melagukan syair pujian itu, permainan gendang haram, haram pula lah perkara-perkara yang telah disebutkan dalam hadits-hadits Rasulallah saw..
Rasulallah saw. khususnya dan para sahabat adalah para tokoh Salaf Sholeh begitu juga para hamba Allah yang sholihin, mengapa golongan pengingkar yang mengaku madzhab dan pengikut Salaf Sholeh justru melarangnya dan mengatakan sebagai perbuatan qhuluw?