Rabu, 27 April 2011

BAB-11q.Ajaran-ajaran pokok Wali Songo dan cara dakwah mereka pada masa lalu

Untuk menarik orang-orang musyrik di kepulauan Hindia Timur pada masa lampau, dakwah Islam dilakukan dengan menempuh berbagai cara. Pelaksanaanya disandarkan pada kejernihan pikiran para Da’i, keutamaan perilaku mereka, baik terhadap diri mereka sendiri maupun terhadap orang lain. Kegiatan dakwah tidak dilakukan oleh badan-badan atau organisasi-organisasi, melainkan oleh per-orangan atau sekelompok orang yang mengikhlaskan dri dan waktunya untuk menyebarkan agama Islam dikalangan penduduk musyrik dan belum mengerti atau belum pernah mendengar tentang Islam. Para Da’i dengan sabar, tabah dan hati-hati mengikuti keadaan dan mengindahkan tradisi yang sedang berlaku serta memperhatikan sungguh-sungguh tabiat dan jiwa orang-orang yang hendak diberi pengertian. Dengan demikian mereka berhasil baik dalam menjalankan tugas dakwah yang diwajibkan oleh agamanya. Salah satu factor utama yang menyebabkan keberhasilan mereka ialah; mereka berakhlak mulia, berbudi luhur, berbicara lembut, bersabar dan tidak menyentuh adat-istiadat setempat dimana mereka (orang-orang yang hendak di-islamkan) tumbuh dan dibesarkan.

Para Da’i memahami benar bahwa tradisi dan kebiasaan yang sudah berlaku secara turun-temurun tidak mungkin dapat dihapus dengan perdebatan atau dilawan dengan berdialog. Lembaran-lembaran buku sejarah banyak yang memberitakan penyebaran agama Islam dikepulauan Indonesia, tanah Melayu dan kawasan sekitarnya, termasuk cara-cara yang ditempuh oleh para da’i pada masa dahulu. Diantara cara-cara yang ditempuh dan kegiatan yang dicurahkan untuk berdakwah ialah menggunakan bentuk-bentuk kesenian indah yang sangat digemari penduduk. Kedalam bentuk-bentuk kesenian itu para Da’i memasukkan unsur-unsur ajaran islam dengan mengubah beberapa kata dan kalimat (dalam liriknya) dan di-isi dengan ajaran-ajaran Islam yang mudah diserap. Hingga sekarang nyanyian dan tarian masih tetap ada sebagai pusaka peninggalan para Da’i zaman dahulu. Karena para Da’i bekerja atas dorongan hati yang ikhlas dan semangat Tasawwuf yang tinggi, dengan kesabaran luar biasa mereka berpegang pada metode ‘tut wuri handayani’ yakni ‘mengikuti sambil menarik perlahan-lahan’. Dengan tekun dan tahap demi tahap mereka mengubah dan mengisi lirik nyanyian dan lagu-lagu yang digemari penduduk dengan untaian kata dan kalimat yang mengandung pengarahan akidah dan pendekatan diri kepada Allah swt serta pendidikan akhlak Islam.

Misalnya cara yang ditempuh oleh seorang waliyullah terkenal, Joko Sa’id yaitu menggunakan pagelaran ‘wayang’, suatu kesenian Jawa yang sangat diegemari penduduk pada masa itu. Beliau menggubah ceritera-ceritera pewayangan dengan di-isi prinsip-prinsip ajaran Islam secara luwes, kemudian dipagelarkan (dipentaskan) didepan khalayak ramai. Pementasan ini banyak digunakan untuk menyebar- kan pengertian tentang agama Islam. Lirik nyanyian dan lagu-lagu yang biasanya digunakan untuk mengiringi tarian Srimpi yang lazim dipentaskan di istana-istana kerajaan, diubah demikian rupa menjadi hikayat yang diambil dari buku ‘Amri Hamzah’ yang mengisahkan kepahlawanan paman Nabi Muhamad saw dalam membela agama Islam , yaitu Sayiduna Hamzah bin Abdul Muthalib ra. Adapula Da’i yang bernama Sayid Ishaq bin Ibrahim bin Al-Husain menempuh cara penyebaran Islam keberbagai daerah, dengan pengobatan untuk menolong penduduk yang sakit. Ada lagi diantara para Da’i antara lain Sayid Abubakar di Philipina, yang menempuh cara dengan mendekati penguasa dan bangsawan yang berpengaruh untuk membantu mereka dalam pekerjaan mengelola pemerintahan atau kesultanan sambil berdakwah mengajak mereka masuk agama Islam. Ada lagi cara umum yang bercorak kesenian, yang ditempuh oleh para Da’i. Diberbagai tempat yang telah direncanakan, diselenggarakan hiburan semacam ‘pesta’, di-isi dengan nyanyian dan lagu-lagu keagamaan (umpama sholawatan, mengucapkan kalimat-kalimat tauhid dan lain-lain yang serupa) dengan di-iringi dengan rebana. Pesta demikian itu dihadiri oleh banyak orang, ada yang telah masuk Islam dan ada juga yang belum. Mereka datang berduyun-duyun tertarik oleh suara rebana dan nyanyian-nyanyian. Usai pesta demikian itu orang-orang yang belum memeluk Islam makin dekat hubungannya dengan mereka yang telah memeluk Islam.  
Pada akhirnya mereka mengikuti jejak teman-temannya, menyatakan keinginan memeluk Islam. Demikianlah ceritera atau sejarah para Da’i dalam menyebarkan Islam dikepulauan Indonesia khususnya dan daerah-daerah kawasan sekitarnya pada zaman dahulu.
Kyai Haji Raden Abdullah bin Nuh –rahimahullah- mengatakan didalam bukunya Wali Songo,”bahwa sembilan orang Wali semuanya mengajarkan agama Islam secara murni, bermadzhab Syafi’i dan termasuk Ahlus Sunnah wal jama’ah”.

Ada sementara pihak yang mengatakan bahwa ajaran diantara Wali Songo itu mengawinkan atau mengasimilasikan ajaran Islam dengan seni budaya lama (Syiwa Budha) di Jawa. Jelas ini tidak mungkin, karena Wali Songo adalah para ulama yang sangat besar ketakwaannya kepada Allah swt dan mengenal baik apa yang dihalalkan dan diharamkan oleh Syari’at Islam.

Didalam Majalah Islam Al-Jami’ah nomer 5, tahun 1, bulan mei 1962 memuat sebuah makalah yang ditulis oleh Drs. Wiji Saksono dengan judul ‘Islam menurut wejangan Wali Songo berdasarkan sumber sejarah’  menuturkan beberapa hal, antara lain: Dari sembilan orang wali itu hanya Sunan Bonang (silahkan rujuk bab Sunan Bonang) sajalah yang hingga dewasa ini dapat diketahui dengan jelas pokok-pokok ajarannya dan dapat dijadikan pegangan atau sumber rujukan. Sedangkan ajaran para Wali yang lain masih sangat samar dan belum terungkapkan. Banyak sekali yang telah ditulis orang tentang ajaran Wali Songo, tetapi belum dapat dinilai sebagai sejarah dalam arti yang yang sebenarnya. Meskipun demikian, apa yang terdapat didalam ajaran-ajaran Sunan Bonang itu sudah dapat dipastikan dan dijadikan ukuran untuk dapat diketahui corak ajaran Islam yang pertama masuk dipulau Jawa khususnya dan kepulauan Indonesia lainnya. Apabila kita menelaah dan mempelajari naskah-naskah dan mempelajari naskah-naskah Primbon wejangan Sunan Bonang, kita akan menjumpai nama-nama judul Kitab dan nama-nama tokoh sebagai sumber pemikiran Wali Songo. 

Nama-nama dan judul-judul kitab yang dimaksud ialah:
Ihya ‘Ulumuddin karya Imam Al-Ghazaliy ; Talkhish Al-Minhaj karya Imam Nawawi ; Qut Al-Qulub karya Abu Thalib Al-Makky (salah satu kitab rujukan bagi kitab Ihya nya Al-Ghazaliy). Beberapa nama yang disebut dalam Primbon tersebut ialah :
Pikantaki (Daud Al-Anthakiy) ; Abu Yazid Al-Busthaniy ; Muhyiddin Ibn ‘Arabiy ; Seh (Syeikh) Samangu ‘Asarani (?) ; Abdulkadir Al-Jailaniy ; Syeikh Rudadi (?) ; Syeikh Sabti (?) ; Pandita Sujadi wa Kuwatihi (?). Tamhid Fi Bayanit-Taudih karya Abu Syukur As-Salamiy.

Fiqh, tasawwuf dan tauhid tersusun lengkap dan rapih dalam Primbon Sunan Bonan sesuai dengan ajaran akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dengan madzhab Syafi’i. Dalam primbon tersebut disamping terdapat ajakan kepada tauhid, juga terdapat seruan kepada pembacanya agar menjauhkan diri dari perbuatan syirik (menyekutukan Allah swt dengan yang lain).
Sunan Bonang juga menegaskan adanya beberapa pemikiran sesat mengenai soal ketuhanan, antara lain :
- Paham atau pemikiran yang menganggap Dzat Allah adalah kekosongan hampa semesta.
- Paham atau pemikiran yang beranggapan bahwa yang ada (maujud) adalah Allah, dan yang tidak ada (‘adam) pun Allah juga.
- Paham atau pemikiran yang menganggap asma Allah itu adalah kehendakNya dan juga DzatNya. Demikian sebaliknya.
- Paham atau pemikiran kaum Batiniyah yang antara lain mengatakan, bahwa semua makhluk adalah sifat Tuhan
- Paham atau pemikiran Kawula Gusti, yaitu yang menganggap manusia dan Tuhan adalah bersatu
- Paham atau pemikiran Wahdatul-Wujud (Pantheisme) yang mengatakan Tuhan itu identik dengan makhlukNya.

Semua paham, pemikiran dan aliran atau ajaran-ajaran seperti yang dikemukakan tadi, oleh Sunan Bonang dinyatakan sesat dan kufur. Dasar-dasar akidah yang ditegakkan dan harus dipelihara, menurut ajaran Sunan Bonang, ialah:
- Allah adalah Al-Khaliq yang Maha Esa, mandiri, tidak tergantung pada apa pun juga dan Maha Kuasa. Ini merupakan asas Tauhid.
- Manusia beroleh kebebasan berikhtiar, ini merupakan asas tanggung jawab insani. Pada penutup primbon tersebut Sunan Bonang menyerukan :“Hendaklah perjalanan lahir batinmu sesuai dengan jalan syari’at, mencintai dan berteladan kepada Rasulallah saw.”
Dari sekelumit isi Primbon-nya Sunan Bonang itu jelas tergolong Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Dan serupa itulah ajaran para Wali Songo atau para Da’i lainnya yang tersebar di Hindia Timur dan kepulauan lainnya. Demikianlah riwayat singkat para Wali Songo dan para Da’i serta ajaran-ajaran pokoknya.